Menunggu

Oleh : Ahmad Falhan

Menunggu memang pekerjaan yang melelahkan, bahkan menyakitkan. Menunggu banyak hal, tak jarang juga menunggu kematian. Sebagaimana di kam-kam pengungsian akibat perang ataupun bencana alam. Air tak cukup, makanan sangat terbatas, wabah pun merajalela. Yang terlintas adalah kematian, yah, kematian sebentar lagi akan menjemput,” ungkap seorang wanita tua, yang tak mempunyai sanak keluarga lagi, hanya sebatangkara, ia hanya dapat mengenang masa lalunya bersama handai tolannya. Di sela-sela kepedihan tersebut, terdengar suara pekikan keputusasaan salah seorang pengungsi, tangisnya pun dalam. Setelah beberapa hari kemudian ditemukan jasadnya yang kaku, dengan pisau tertancap di uluh hati. Petugas pun menyatakan,” Ia bunuh diri.

Setelah ditelusuri dan diselidiki penyebabnya, diketahui bahwa wanita terebut mengalami depresi jiwa yang begitu dalam, karena diperkosa oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab. Dia merintih dan mengadu, namun tidak ada yang menggubrisnya. Memang banyak sekali orang yang menunggu dan terus menuggu. Karena Kezoliman pasukan Serbia, pada era awal Sembilan puluhan orang orang Bosnia harus menunggu nasibnya di tempat pengungsian. Begitu juga kelaparan yang melanda bangsa Eritrea menyebabkan mereka harus tinggal di kam-kam pengungsian, Bangsa Palestina yang terjajah harus menunggu kematian mereka di neraka Sabra dan Shatila(1982). Dan sampai sekarang hak-hak mereka terus dirampas oleh kaum Zionis Israel.

Detik detik menunggu tersebut sangatlah berat bagi seluruh manusia bahkan bagi seorang pencinta. Ia ingin cepat melaluinya dan sebuah kepastian ingin cepat diraihnya. Dalam hati pun sang pencinta terus bertanya dan bertanya. Maka tepat apa yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, bahwa detik detik ketidak pastian bagi seorang pencinta itu adalah lahan yang sangat empuk bagi Syetan untuk memisahkan dua orang kekasih. Memang hal tersebut menjadi agenda penting Syetan terhadap manusia, sebagaimana juga dipaparkan di dalam  al-Quran (Q.S al-Baqoroh 102 ).

Selain pencinta, tak ketinggalan juga penyair, semisal Ahmad Syauqi (1868 – 1932) seorang penyair dan pembaharu Sastra Arab modern, dalam pengasingannya di Spanyol (1915-1920) ia mengungkapkan kisah-kisah penantiannya melalui syair-syair yang beliau tulis. Sebuah bait yang dapat dipetik dari syairnya, beliau mengatakan,”

اِختِلافُ النَهارِ وَاللَيلِ يُنسي اُذكُرا لِيَ الصِبا وَأَيّامَ أُنسي

Pergantian siang dan malam telah membuatku lupa, maka wahai malam dan siang ingatkanlah aku kembali kepada masa kanak-kanak dan muda ku serta kebahagianku.

Sang penyair  begitu merasakan dan menghayati penantian dan pengasingannya. Yang patut dicontoh dari penantiannya adalah perubahan positif yang terjadi pada diri Ahmad Syauqi. Yaitu lahirnya seorang penyair rakyat, yang selalu memikirkan umatnya, dimana sekian tahun lamanya selalu bergelimang dengan kemewahan, namun penantian telah meninggalkan sebuah keyakinan, bahwa kebenaran selamanya takkan pernah usang dimakan zaman. Sementara kezaliaman harus dihilangkan dari permukaan bumi ini. Maka berbondong bondong orang mendengarkan dan membaca syair-syair beliau yang terkumpul menjadi sebuah buku monumental al-Syauqiyyaat rujukan banyak penulis dan sastrawan.

Beberapa tahun sebelum wafatnya, beliau dinobatkan menjadi President Penyair Arab Amiru al-Syuaraa(1927). Di sebuah tempat di pinggirn sungai Nil Giza beliau selalu mengadakan pertemuan dengan para penyair dan sastrawan Arab semisal al-Manfaluthi, Abbas Mahmud al-‘Aqqod, Toha Husain dll, membahas masa depan dan perkembangan sastra pada masa tersebut,

Begitu pula di Indonesia, dalam sebuah penantian di dalam penjara, Hamka dengan ketajaman penanya menorehkan pikiran-pikiran serta renungannya, sehingga menjadi sebuah tafsir yang kelak dinamakan Tafsir al-Azhar, setelah mendapatkan pengghargaan Doktor honoris Causa atas kitab tafsirnya tersebut dari Lembaga pendidikan al-Azhar Kairo Mesir.

Penantian tidak selamanya melahirkan kehancuran, maka dalam menunggu janganlah kita matikan hasrat serta cita cita kita. Tidak jarang ia bermetamorfosis menjadi sebuah pencerahan. Cobalah kembali kita simak kejadian yang pernah terekam pada sejarah zaman keemasan Abbasiah. Kala itu, Kholifah Abbaasiah al-Mu’tashim billah (179-227 H) beserta pasukannya hendak menggempur pasukan Romawi di kawasan ‘Ammuriah (223 H), karena Bangsa Romawi tersebut sudah banyak melakukan kezoliaman serta penganiayaan terhadap umat Islam di daerah Isparta (زبطرة ) di  dekat kawasan Malatya (sebelah timur Anatolic).. Dalam perjalanan menuju medan  pertempuran tersebut, tampil saeorang penyair dan pemikir Abu Tamam yang penuh semangat mengobarkan spirit pejuangan dikalangan umat Islam. Beliau menepis semua ucapan alhli nujum yang hendak menghilangkan semangat umat Islam. Dalam penggalan bait syairnya dikatakan’

السَّيْفُ أَصْدَقُ إِنْبَاءً مِنَ الكُتُبِ    في حدهِ الحدُّ بينَ الجدِّ واللَّعبِ

بيضُ الصَّفائحِ لاَ سودُ الصَّحائفِ في  مُتُونِهنَّ جلاءُ الشَّك والريَبِ

Menghunus pedang untuk berjihad lebih baik dari perkataan ahli nujum

Tajamnya pedang akan membedakan antara kesungguhan dan permainan

Putihnya pedang bukan hitamnya tulisan para ahli nujum

Pedang-pedang tersebut akan menyingkap segala keraguan

Setelah sekian lama penantian tersebut, akhirnya datanglah kemenangan, yang Allah berikan kepada umat Islam. Sebagai buah ikhtiar, perjuangan dan doa mereka. Sama halnya juga dengan bangsa melayu di kawasan Afrika selatan tepatnya di Cape Town, Apartheid sudah sangat menghimpit mereka, mereka yang berasal dari Puak ini pun tetap bertahan bersama Puak Afrika kulit Hitam. Bertahan, dan berkeyakinan bahwasanya peradaban Islam dan Melayu akan tetap mengakar pada diri mereka, serta terus mencari informasi tentang berita nenek moyang mereka kepada awak kapal Asia yang singgah disana, walaupun hukum terus menghimpit dan memisahkan hal tersebut dari mereka, dan menganggap mereka hanya sebagai budak-budak dan rakyat jelatah. Akhirnya setelah hukum buatan kulit putih itu dapat dicabut, Puak ini pun terus dapat hidup dengan udara baru yaitu ‘Kemerdekaan’. Di dunia ini banyak sekali waktu-waktu penantian. Menanti kematian, menanti kekasih, menanti keberhasilan di balik kealpaan usaha dan waktu kita. Kita juga menanti runtuhnya sistem kapitalisme dan libralisme, setelah lama menyengsarakan banyak manusia, sebagaimana dahulu orang-orang menanti keruntuhan sosialisme komunisme. Wallahu a’lam