Stop Perundungan dan Bullying

 Oleh: Ahmad Falhan

Email: ahmadfalhan622@gmail.com

Perundungan dan bullying sepertinya acap kali terjadi di kalangan anak-anak sekolah dewasa ini. Seperti halnya berita yang diturunkan oleh detiknews, pada hari sabtu tanggal 30 September. Bahwa telah terjadi kasus kekerasan di kalangan anak SMPN 2 di Cilacap , Jawa Tengah. Terlepas dari motif terjadinya bullying, yang jelas tindakan semacam  ini sudah sangat meresahkan dan harus menjadi perhatian kita bersama. Tidak terkecuali, orang tua dan guru memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik anak. Sejak dini harus ditanamkan akhlak dan budi pekerti, yang sejatinya bersumber dari al-Quran dan al-hadits.

Orang tua dan guru harus dapat menanamkan di dalam diri anak-anak untuk dapat mewarisi nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Quran. Di dalam Surat al Hujurat  ayat 11 Allah SWT telah menyatakan bahwa, siapa saja tidak boleh mengejek atau merendahkan martabat orang lain.

Allah SWT telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (Al-Hujurat : 11).

Sebab turunnya ayat ini, sebagaimana disebutkan oleh di dalam tafsir al-Munir yang ditulis oleh al-Allamah Wahbah al-Zuhaili, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan utusan dari Bani Tamim yang merendahkan orang-orang yang fakir dari kaum Muhajirin. Diantaranya adalah ‘Ammar, Khabbab, Ibn Fuhairah, Bilal, Shuhaib, Salman, dan Salim budak dari Abu Hudzaifah dan juga yang lainnya. Utusan Bani tamim merendahkan mereka, lantaran hidup mereka yang miskin dan susah. Maka turunlah ayat sebelas dari surat al-Hujurat.  

Ibnu Jarir al-Thabari di dalam tafsir beliau Jami’ul Bayan ‘an‘Tafsiri ayil Quran menjelaskan bahwa terdapat beberapa riwayat yang  menjelaskan tentang ayat 11 surat al-Hujurat, di antaranya adalah riwayat Mujahid, yang menyebutkan, bahwa tidak boleh merendahkan orang lain, seperti halnya orang kaya tidak boleh mencerca dan merendahkan orang yang miskin, lantaran si miskin meminta bantuan kepada orang kaya. Sebagaimana di dalam riwayat yang lain pula dari Mujahid, bahwa makna dari وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ adalah janganlah kamu mencela diri kamu dan orang lain.

Al- Qurthubi di dalam tafsir beliau al-Jami’ li Ahkamil Quran  menyebutkan sebuah riwayat, bahwa sahabat Abu Dzar pernah mendapatkan teguran dari Rasulullah SAW, ketika beliau memanggil seseorang yang mendebat beliau dengan sebutan wahai anak orang Yahudi. Maka Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidaklah engkau lebih mulia dari orang lantaran warna kulitnya merah  atau hitam, yang membedakan adalah ketaqwaan. Setelah itu turun ayat وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ  jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. 

Mencela saja tidak boleh, apalagi kalau sampai menyakiti fisik orang lain, yang tentunya sangat dilarang di dalam agama Islam dan juga pada agama-agama yang lain. Permisalan Umat Islam itu seperti satu tubuh, jika ada anggota tubuh yang merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lain juga akan ikut merasakan sakit.    

Rasulullah SAW bersabda;

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.”(HR. Al-Bukhari (no. 6011), Muslim (no. 2586))

Kita harus dapat menanamkan di dalam diri anak-anak kita, bahwa orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, tidak boleh saling menyakiti satu sama lain. Begitu juga dengan seluruh umat manusia yang berbeda keyakinan dengan kita, tidak boleh memerangi mereka, kecuali mereka terlebih dahulu memerangi kita.

Kejadian perundungan dan kekerasan yang telah terjadi akhir-akhir ini, terkhusus di negeri kita tercinta, harus segera kita atasi. Semua pihak yang terkait harus dapat mencari sebab dan juga solusinya. Sangat disayangkan jika generasi-generasi muda kita sampai terkontaminasi oleh hal-hal negatif, seperti bullying, tawuran ataupun obat-obat terlarang.

Arus teknologi yang sangat masif harus dapat mendatangkan nilai positif, bukan malah sebaliknya, memberikan dampak negatif, terutama tontonan-tontonan di media sosial ataupun di televisi.

Apa yang anak-anak kita saksikan, bukan tidak mungkin akan ditiru oleh mereka. Bagaimana jadinya, jika otak anak-anak kita dipenuhi oleh sampah yang kurang bermanfaat bagi mereka. Seorang motivator asal Mesir pernah mengatakan, otak anak kita itu bagaikan hardisk yang masih kosong, tentu perlu diisi dengan file-file terbaik. Sungguh menakjubkan, jika di dalam pikiran mereka selalu diisi dengan nilai-nilai al-Quran dan al-Hadist. Tentu hal tersebut akan tetap tersimpan rapi di dalam memori otak mereka. Yang akan membentuk kepribadian mereka di saat ini dan juga di masa yang akan datang. 

Peran orang tua  sangatlah dominan dalam mendidik anak mereka, karena  waktu mereka lebih banyak di rumah. Komunikasi antara orang tua dan anak harus terus terjalin. Anak-anak tersebut harus selalu dalam pengawasan orang tua. Terutama peran seorang ibu, yang telah melahirkan mereka. Tentunya hubungannya dengan sang anak haruslah lebih dekat.

Maka betul apa yang dikatakan oleh hafiz Ibrahim Bek dalam syairnya,

الأم مدرسة إذا أعددتَها                           أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق

Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya. Berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya

Wallahu a’lam bishawab